Selasa, 08 November 2016

FINALLY, MASTER DEGREE!

Diposting oleh shntyaa di 22.12
Reaksi: 
0 komentar
Beberapa orang sempat menanyakan, "kenapa kamu ambil lintas jurusan? kok nggak ambil sesuai dengan titel S1nya? biar bener-bener master"

saat dapat pertanyaan seperti ini, saya juga awalnya bingung sendiri. Kenapa ya? Memangnya ada yang salah?

Banyak sekali orang-orang yang ternyata sama-sama memilih pilihan seperti saya, mengambil lintas jurusan untuk Master degreenya. Bahkan mantan teman sekelas saya (ia mantan temen, karena dia pada akhirnya mengambil kelas yang berbeda, konflik sama dosen), mengambil 4 jurusan master yang berbeda. Saat saya tanya mengapa memilih pilihan tersebut, doi bilang "pengen aja belajar yang banyak" Subhannallah.. sampai geleng-geleng dengernyaa :'D

Pasca Strata 1, saya mengalami transformasi yang luar biasa. Teman-teman dan lingkungan pekerjaan saya mengalami perkembangan. Saya yang tadinya terjun bebas di dunia politik, mulai memahami karakter orang lain, dari pertemuan, jabat tangan, cara berkomunikasi lewat dunia digital, dan bahkan tatap mata. Saya menyadari bahwa ada hal yang sangat menarik yang tadinya saya belum sadar benar, hingga akhirnya Allah SWT berbaik hati "memberikannya" langsung kepada saya. Jurusan Corporate Communication. Jadilah saya anak komunikasi. Alhamdulillah, dengan awardee saat duduk di bangku S1.

Satu setengah tahun menyelesaikan studi, ternyata dunia komunikasi tidak kalah menarik dengan Hubungan Internasional. Dengan majunya perkembangan sosial media dan tehnologi, korporat mau nggak mau juga harus memajukan langkah beberapa tahapan jauh ke depan. Citra dan reputasi yang tadinya bisa mereka "spin" dengan berita-berita yang mungkin mereka munculkan sendiri di media cetak, sekarang dengan mudah dapat dipelajari oleh publik di media sosial. Jadi, korporat juga harus "pintar" membaca situasi bahwa publik juga selangkah lebih maju dari dunia informasi yang bersifat konvensional atau bisa dikatakan bersifat satu arah. Publik bukan lagi hanya bisa membaca satu arah, tapi bisa mengkoreksi sebuah pemberitaan lewat dunia digital.

Saya bersyukur sekali, bisa mengenyam bangku master. Dosen yang memberikan pembelajaran di kelas merupakan praktisi yang handal di bidangnya. Banyak sekali kasus yang dekat dengan kehidupan saya sehari-hari, namun ternyata dulu saya luput melihatnya, karena saya pikir bukan bidang saya. Setelah satu setengah tahun berkutat dengan dunia komunikasi, baru saya sadari ternyata komunikasi adalah langkah awal untuk memulai semuanya. And i'm glad that i could jump in too and involved in it.

Alhamdulillah setelah drama yang berkepanjangan, meski jauh berbeda saat penulisan Skripsi, saya cukup bangga dengan peningkatan akademis yang saya miliki. Jujur, saya terpacu dan terinspirasi dengan langkah yang diambil ayah saya, dengan mengambil dua jurusan Master sekaligus. Sekarang, beliau terpikir untuk mengambil doktoral di usianya yang tidak lagi muda. Lulusnya beliau seperti memacu saya, bahwa saya bisa melakukan lebih dari saat ini. Thesis yang saya tulis dengan bahasa Inggris tersebut karena saya masuk kelas Executive, sedikit banyak membantu saya dalam proses penulisan dan editing yang cukup kompleks. Saya sadari mungkin Thesis saya mengalami kekurangan di sana-sini, tapi Alhamdulillah hal tersebut merupakan penemuan dan buah pikiran saya sendiri.

Desember nanti, saya dan beberapa teman lainnya akan melewati proses Wisuda. Saat penulisan ini berlangsung, saya sedang memikirkan baju apa yang saya pakai (hehehe, again, once in a lifetime) serta langkah apa yang saya ambil selanjutnya. Saya terpikir untuk melanjutkan studi doktoral, namun bisa juga untuk mengambil Master Degree yang kedua untuk bidang yang berbeda.. But, i still don't know yet..

Life is full of mysteries :)


Rabu, 28 September 2016

Menolak KALAH!

Diposting oleh shntyaa di 16.40
Reaksi: 
0 komentar


Jika ada satu hal yang patut saya banggakan pada diri saya di tahun ini adalah saya menolak kalah.

Life is hard.
Life is simple.
Which one do you prefer?

Saya pikir setiap orang punya pernyataan yang berbeda-beda.
Jika sedang berada dalam tahap hidup yang dramatis, mungkin pernyataan bahwa “hidup itu keras” cukup mendeskripsikan apa yang sedang orang tersebut alami.
Lain pula jika seseorang sedang dalam keadaan bersyukur atas apa yang ia punya atau sedang ia rasakan, “hidup itu sederhana” rasanya sah-sah saja.

Well… mengamati perkembangan teman-teman saya, sahabat saya, rekan saya, saudara saya yang jumlahnya kini dua kali lipat, bohong rasanya kalau saya tidak merasa sedih.. iri.. I don't wanna be like them. But sometimes, why can’t I be like them?

Si A update perkembangan karirnya, si B update perkembangan pernikahannya, si C sedang menantikan buah hati, si D baru saja lamaran, si D akan menyelesaikan kuliahnya di luar negeri, si E yang baru buka cabang baru tokonya, atau bahkan si F yang selalu berpergian kemana-mana.
My dirty mind selalu bilang “ kok gak bisa sih gue kaya doi?”
Padahal, saya selalu meyakinkan diri sendiri bahwa “be original. Be you. Because somebody was already taken”
Udah.
Cukup.

Tapi yaaa, dasar manusia. Selalu aja mudah membandingkan kehidupannya saat mungkin… kehidupannya sedang datar-datar aja. Mulus-mulus saja. Tapi itulah yang kemudian dipertanyakan. Heeeey, where is my latter to step on to ?

This too shall pass.
Another page will turn.

Saya pernah hampir menyerah. Luar biasa menyedihkannya saat itu. Saya pikir saya akan kalah.
Support system saya sudah memberikan alert supaya saya bergegas bergerak. Jangan ditempat yang sama. Kalau tidak ingin berlari, paling tidak berjalan. Kalau tidak ingin berjalan, paling tidak berdiri. Kalau tidak ingin berdiri, paling tidak duduk. Tapi jangan pernah berbaring.

So here I am.
Menolak kalah.
Saya berada di posisi berdiri saat ini.
Minggu depan, saya mungkin akan memutuskan sikap apa yang harus saya ambil.
berjalankah? Berlarikah?


Baru kali ini saya berani berkata.

Saya  MENOLAK KALAH
dengan DIRI SAYA SENDIRI

Rabu, 17 Agustus 2016

Merdeka?

Diposting oleh shntyaa di 20.19
Reaksi: 
0 komentar



17 agustus tahun 45
itulah hari kemerdekaan kita
hari merdeka
nusa dan bangsa
hari lahirnya bangsa Indonesia..
mer..de..kaa..

kapan terakhir kali kamu ikut upacara pengibaran bendera merah putih?
Hayooo, ngaku.. siapa yang suka pura-pura ke UKS supaya nggak terkena sinar matahari langsung dan lebih memilih “ngendon” di bawah sepoi-sepoi pendingin ruangan? Nunjuktangan


Dulu, ada masa dimana kita (eh saya), belum memahami benar apa makna dibalik upacara bendera. Yang saya tahu,upacara bendera selalu dilaksanakan setiap hari senin, memakai baju seragam, mendengarkan pidato dari kepala sekolah atau guru yang lama dan membosankan, dan paling mengkhwatirkan adalah paparan sinar matahari menyengat yang sanggup membuat baju seragam yang tadinya wangi-wangi semriwing, menjadi wangi campur kecut! Maka, hampir sebagian besar (menurut pengamatan saya), ada yang bersembunyi di kelas, duduk di pojokan bagian belakang, ada pula yang sengaja terlambat masuk sekolah, dan yang paling umum adalah “ngadem” di UKS. Padahal, kalau pada saat itu tahu betul makna dibalik upacar bendera, hal-hal nakal barusan rasanya mau di skip aja!

Saya menangis untuk pertama kalinya dalam misi kebudayaan saya di Polandia. Kala itu, tim dari kampus S1 saya ikut dalam misi budaya menampilkan hampir seluruh kebudayaan Indonesia dalam satu panggung yang berisikan negara-negara lain dari mancanegara. Bergetar hati saya, saat seluruh tim misi budaya ini, menyanyikan lagu satu nusa satu bangsa secara bersaman. Kami berada di negara orang lain, tapi saat itulah justru merasakan nasionalisme yang begitu membuncah.

Dua, hingga tiga tahun berturut-turut saya melakukan prosesi demikian di negara orang. Tidak dengan upacara bendera, namun membawakan bendera merah putih selama defile kebudayaan berlangsung. Pertama kali pula saya merasakan bangga yang luar biasa dalam mengenakan pakaian tradisional serta memainkan alat music tradisional selama acara berlangsung. Semua penonton berebut untuk berfoto bersama, padahal kami bukanlah siapa-siapa.

Kembali lagi ke Indonesia. 71 tahun sudah umurnya. Apakah merdeka sudah saya rasakan?
Berbagai artikel simpang siur di lini media sosial saya. Ucapan selamat ulangtahun Indonesia juga hilir mudik menghiasi selama saya men-scroll update status media sosial yang dimiliki oleh teman-teman. Saya sepertinya yang hari ini tidak hiruk pikuk mengucapkan selamat ulangtahun pada negara tercinta ini. Apakah saya kehilangan rasa nasionalisme saya?
Tentu saja tidak!

Saya justru merasa iri pada ayah saya yang lahir satu hari sebelum hari kemerdakaan Indonesia. saya juga iri pada bayi-bayi mungil yang lahir di hari bersejarah ini, dan bahkan iri pada suami istri yang memiliki hari jadi pernikahan di tanggal yang sama. Mereka memiliki romantisme yang berbeda dibandingkan saya … aaah, apakah saya berlebihan?

Saya memilih untuk menghindar dari “keributan” dan kontemplasi atas apa yang selama ini saya jalani. 71 tahun sudah negara yang saya tinggali ini merdeka dan saya mengikuti perkembangannya selama 25 tahun terakhir. Apakah saya benar-benar merasakan merdeka?

Tak jarang pula saya temukan pertanyaan ini di update status teman-teman saya. Ada yang nyinyir, ada yang sarkasme, ada yang gegap gempita bilang bahwa kita telah sepenuhnya merdeka. Lalu, merdeka bagaimanakah yang mereka maksudkan?

Tentu setiap orang punya versi yang berbeda-beda.
Saya sendiri setuju bahwa setidaknya, saat ini saya sudah merdeka. Apakah negara saya merdeka? Mungkin bagi negarawan senior, mereka akan mengatakan belum… atau setengah merdeka, setengah dijajah.. dan berbagai pendapat lainnya.. yang saya pedulikan adalah bagaimana saya memaknai kemerdekaan dengan cara saya sendiri.

Saya mungkin belum memberikan dampak besar bagi lingkungan sosial saya. Saya bukan pahlawan, bukan pencetak sejarah, bukan penemu, dan bukan pula seseorang yang menjadi sorotan bagi orang lain. Tapi setidaknya, saya memiliki kemerdakaan untuk berpikir, untuk bersuara, untuk berpendapat, untuk berkreasi, untuk berproduksi, dan untuk menikmati.
Merdeka?

Ya, saya merdeka.
Jika 71 tahun yang lalu, istri Soekarno tidak menjahitkan bendera negara kita dengan seprai putih dan juga tenda dari seorang tukang warung, mungkin kita belum merdeka.
Jika tombak bamboo runcing tidak bisa mengalahkan peluru modern di tahun 1945, mungkin kita belum merdeka.
Jika Soekarno tidak mengumumkan kemerdekaan, republic Indonesia, mungkin benar kita belum merdeka.

Saya hanya berpikir, jika kita menilai merdeka adalah sebuah grand idea atas sebuah kebebasan, maka sebaiknya kita berkaca pada diri kita sendiri. Merdekakah kita?



Miracle of Counting the Blessings

Diposting oleh shntyaa di 19.50
Reaksi: 
0 komentar

Seperti manusia kebanyakan, hidup saya tidak lurus-lurus amat.
Ada kalanya saya begitu bosan dengan rutinitas yang saya lakukan dan menuntut hal-hal baru datang dalam hidup saya dan bisa segera saya lakukan.
Beberapa kali, di hari-hari belakangan ini, saya mengalami roller coaster mood yang luar biasa. Rasanya seperti “bacok senggol”. Padahal, saya tidak sedang lagi PMS!

Setelah sujud malam, baru saya menyadari bahwa ternyata hal yang salah dalam hidup saya belakangan ini adalah kekurangan bersyukur.
Saya selalu melihat rumput orang lain lebih hijau, kehidupan orang lain lebih mapan, hari-hari tetangga begitu cerah dan saya masih begini-begini aja, masih disini-sini saja.
Rutinitas yang saya nikmati benar sebelumnya, sekarang jadi terasa hambar.
Bahkan kegiatan menyiram pohon pun, jadi terasa sangat tidak nyaman. Padahal, saya menantikan betul kegiatan menyiram pohon dua kali dalam sehari di rumah saya :’(

Sedih yaa…

Padahal hidup saya sama sekali tidak menyedihkan.
Bahkan ada beberapa pesan singkat yang masuk ke dalam handphone saya, yang sekedar menyatakan bahwa orang-orang ini senang melihat saya dengan kondisi saya saat ini yang terlihat sangat berbahagia.. tapi tunggu dulu… benarkah saya memang benar-benar bahagia? Atau memang hal itu yang saya ingin tunjukkan ke orang lain?


Jika saya merunut pada kebiasaan saya di masa lalu, saya akan mulai menyalahkan kondisi di sekeliling saya yang begitu tidak mendukung. Apapun bisa saja saya salahkan. Meski tidak secara langsung, tapi saya menyalahkannya dalam hati. Hingga akhirnya, pelan-pelan saya memupuk kekesalan dalam diri sendiri yang menyebabkan saya stress dan patah hati. Dengan diri saya sendiri! Aneh sekali memang!

Ternyata, yang salah adalah kurangnya rasa bersyukur.

Saya kadang lupa untuk bersyukur karena sampai saat ini, saya tidak perlu lagi bolak balik ke rumah sakit.
Saya kadang lupa bersyukur terhadap beberapa keberhasilan pencapaian hidup yang saya set sendiri. Saya lupa bersyukur bahwa saat ini saya dikelilingi orang-orang baik yang senantiasa melindungi, menyayangi dan mengingatkan kalau-kalau saya salah memilih jalan. Orang-orang ini ada sebagai life support yang kehadirannya sekarang hampir terasa seperti 24 jam dalam sehari.
Dan yang terpenting, saya lupa bersyukur bahwa saya masih berada dalam nikmat Islam.. nikmat sebagai mukmin..
Banyak hal yang patut saya syukuri, daripada saya sibuk mencari apa yang kurang, apa yang salah.
Saya menjadi kurang bahagia dengan apa yang sudah ada, padahal banyak orang diluar sana yang mungkin menginginkan hal yang dititipkan pada Allah pada saya saat ini…


Alhamdulillah saya tidak perlu diingatkan orang lain untuk kembali bersyukur atas apa yang saya punya saat ini. Yang belum diperoleh, saya hanya perlu berusaha dan berdoa lebih giat. Toh, Allah tidak pernah memilih2 untuk mengabulkan doa hambaNya.. jika belum dikabulkan sekarang, mungkin Allah sedang menunda untuk memberikan yang jauh lebih indah…






Senin, 08 Agustus 2016

Jakarta and “Enchanting “ Traffic

Diposting oleh shntyaa di 11.06
Reaksi: 
0 komentar

 reading time : 3-5 minutes

Jakarta
The city that never sleeps
The city of lights
Or the love and hate relationship?

I came out with these ideas of three pile of words above,  to give three statements about the city which I live for years. Correction. Used to live.

I just wanted to share, why I used term of  love and hate relationship?

Setelah 3 bulan lamanya mendapatkan pengalaman untuk tinggal si suburb area, saya baru menyadari bahwa Jakarta selalu memberikan the power of spell bagi siapapun yang memiliki kepentingan untuk tinggal di wilayah tersebut.

Saya sempat pindah “pulau” selama beberapa tahun lamanya, untuk ikut ayah saya bekerja. All I can say, semua pengalaman pindah-tinggal-kenalan-pamit-adaptasi-pindah-tinggal lagi, menjadikan saya sebagai pribadi yang sedikit tau bagaimana rasanya belajar untuk beradaptasi. Hingga akhirnya, saya pindah dan kemudian menetap lagi di kota tempat saya dilahirkan. Another correction. Bukan tempat dilahirkan, tetapi tempat saya diajarkan untuk berkembang . oleh lingkungan.

Saya baru menyadari pula, betapa beruntungnya saya karena keluarga saya mendapatkan tempat tinggal di “tengah” Jakarta. ayah saya hanya butuh waktu 5 menit dari rumah untuk mencapai kantornya jika tidak macet, saya dan kakak adik saya pun hanya sejengkalan tangan untuk pergi ke sekolah masing-masing.

Tapi itu dulu.
Sebelum gubernur berganti.
Sebelum kebijakan baru datang lagi.

2016, sebagai mantan anak “selatan”, saya mengalami betul perubahan yang dibuat oleh gubernur “baru” Jakarta. utamanya adalah penambahan jalur-jalur jalan baru, penambahan dan perubahan fasilitas umum, baik transportasi maupun yang lainnya. Sedikit banyak, saya merasakan perubahan positifnya, meski, nggak bisa dipungkiri saya juga sempat jengah dengan hal-hal negative yang ikut saya alami sejak adanya perubahan-perubahan tersebut.

Jika dulu saya cukup mengenali jam-jam “panas” yang harus saya hindari ketika saya ingin berpergian, kini rasanya menjadi sulit. Waktu dimana biasanya saya bisa menerabas jalan tanpa perlu mengalami kemacetan, sepertinya sudah tidak lagi ada. Mau tidak mau saya harus satu jam  lebih cepat dari waktu keberangkatan biasanya. Belum lagi jika ada jalan-jalan yang memang sedang ditutup dan saya harus memutar arah dua bahkan tiga kali jaraknya dari jalur yang biasa saya lewati. Namun, bukankah memang untuk perubahan yang lebih baik, dibutuhkan pengorbanan yang jauh lebih banyak?
Karena sekarang saya tinggal di suburb meski masih ada kata selatan dibelakangnya, saya tidak bisa lagi mengira-ngira waktu yang tepat untuk saya berangkat ke tempat tujuan di daerah Jakarta. sebagai pusat beraktivitas, saya tidak bisa egois meminta rekan-rekan atau teman-teman yang lain untuk bertemu di daerah tengah “versi saya”. Saya harus mengikuti suara mayoritas dan tempat mana yang dikira nyaman untuk bertemu dan berkegiatan. Meski sudah dibekali dengan apps canggih yang bisa memperkirakan jarak tempuh serta estimated time saya tiba di tempat tujuan, nyatanya aplikasi pun bisa “error”. Selalu ada hal-hal diluar dugaan yang membuat saya gemes sendiri saking tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, berapa lama yang saya butuhkan untuk bersiap-siap berangkat ke tempat tujuan? 1 jam, 1,5 jam?

Yang paling memungkinkan adalah 3 jam sebelumnya. Itu pun sudah dekaaat sekali dengan waktu yang sudah ditentukan untuk bertemu.  Untuk mengakalinya, jika saya bertemu di waktu setelah jam kerja, saya akan berangkat di tengah hari dan rela menunggu 4 atau 5 jam sebelumnya dari waktu yang sudah ditentukan. Wasting time? Hmmm, tergantung. Mungkin saat ini tidak. Saya berhasil membawa hal-hal esensial bersama saya selalu, untuk membunuh kejenuhan atau menjadi seseorang yang lebih produktif. Namun, bagaimana sebulan atau dua bulan kemudian?  I think I’m gonna pass.

 Tinggal di suburb area mengajarkan saya betapa berharganya waktu yang saya miliki dan betapa borosnya saya menyia-nyiakan waktu yang saya punya ketika saya masih berdomisili di selatan Jakarta. waktu yang saya gunakan sama sekali tidak efektif karena saya terlalu lama menghabiskannya di jalan. Sekarang, saya akan berpikir dua kali untuk bertemu dengan teman atau partner di hari yang berbeda, karena parahnya keadaan jalan yang harus saya tempuh untuk sampai di tempat tujuan. Saya akan memilih waktu di hari yang sama dan memadatkannya agar lebih efisien dan produktif. Bukan berarti sok sibuk, tapi saya yakin masih ada hal-hal yang berharga lainnya yang bisa saya lakukan tanpa perlu menghabiskannya di jalan.


Akankah saya jadi membenci Jakarta?


Hmmm, saya pikir tidak.

Jakarta telah memberikan kesempatan bagi saya untuk menimba ilmu, bertemu dengan berbagai orang, bertemu dengan sahabat-sahabat saya, dan menguji seberapa jauh pengalaman yang saya punya untuk menjadikannya bermanfaat bagi orang lain. Saya benci kemacetannya, tapi apakah saya akan membenci keseluruhannya? Tentu tidak.

Saya benci banjirnya, tapi apakah saya akan membenci keseluruhannya? Tentu tidak.

Saya benci kesombongannya, tapi apakah saya akan membenci keseluruhannya? Tentu tidak.

Saya pikir saya akan menghargai Jakarta lebih baik daripada sebelumnya dan mensyukuri apa yang saya punya jauh lebih banyak dari apa yang pernah saya lakukan. 

Senin, 25 Juli 2016

Media sosial dan “kegilaannya”

Diposting oleh shntyaa di 20.54
Reaksi: 
0 komentar


Disclaimer : tulisan ini bukan untuk menjatuhkan pemilik aplikasi media sosial manapun atau orang tertentu. Tulisan ini murni berdasarkan sudut pandang penulis



Beberapa hari yang lalu, netizen Indonesia digemparkan dengan berita hits yang datang dari salah satu selebgram muda Indonesia yang sekarang ini juga merambah menjadi Youtubers.
Saya tidak menampik bahwa saya adalah salah satu orang yang terkena “kegemparannya” perihal konten yang disajikan oleh selebgram dan Youtubers tersebut.

Begini,
Saya menyadari sebagai generasi Y (generasi tahun 90’an atau generasi sebelum maraknya dunia internet) tentu jauh berbeda dengan apa yang dialami dan dirasakan oleh generasi Z. Generasi Z lahir di masa dunia yang aktifnya mengeksplorasi hal-hal baru yang mudah sekali ditemukan melalui jaringan internet. Istilahnya, tinggal google dan click. Semuanya ada! Asal memasukkan keyword yang tepat, saya rasa tidak ada yang tidak bisa ditemukan google sebagai search engine termumpuni saat ini.

Saya disisi lain, mulai merasakan dampak kemudahan ini di akhir masa SMA dan awal perkuliahan. Saat itu, saya baru saja merasakan nikmatnya browsing sana-sini. Bukan hanya kebutuhan akademis yang terpenuhi, tetapi keinginan akan dunia entertainment pun rasa-rasanya menjadi keasyikkan tersendiri. Beruntung, sebagai warga negara Indonesia, bisa dibilang negara kita ini “bebas” mengakses dunia internet. Tidak ada larangan seperti di negara         China  yang hanya memperbolehkan masyarakatnya mengakses internet melalui search engine yang dimiliki oleh negaranya sendiri (saringan kontennya juga amat selektif), atau bahkan seperti Korea utara yang entah bagaimana perkembangan dunia internetnya saat ini. Sebagai remaja (pada masa itu) saya cukup senang atas kehadiran “alien” baru ini.

Hingga akhirnya, kemunculan handphone pintar mulai merajai Indonesia. kemajuan tekhnologi selain membawa berbagai macam kemudahan justru semakin lama mulai menuai padangan yang kontradiktif. Contohnya: kemunculan-kemunculan website-website yang berisikan konten-konten vulgar atau bahkan website yang menjatuhkan nama baik seseorang, semuanya begitu mudah diakses.

Setelah kemunculan handphone pintar, teknologi semakin berkembang sehingga muncul pula media-media sosial sebagai saluran networking untuk berbagi. Tujuannya sebenarnya mulia: untuk berkomunikasi dengan orang lain, untuk berbagi informasi, bahkan betemu dengan teman-teman lama. Sebut saja dengan adanya Facebook dan Twitter, Instagram, Youtube, hingga yang paling mutakhir Snapchat. Semuanya merupakan media sosial untuk berinteraksi dan berbagi. Orang-orang kini tidak perlu lagi surat menyurat atau bahkan berkomunikasi hanya dengan mendengarkan suara, namun tampilan visualisasi juga dengan mudah ditemukan di berbagai media sosial.

Lalu apa hubungannya dengan kegilaannya? Bukannya hal yang disebutkan diatas semuanya memiliki goals yang baik?

Yup, tentu saja semuanya baik. Tapi, kebebasan yang kita punya inilah yang akhirnya menimbulkan kekhwatiran sendiri bagi orang-orang yang juga mulai menyadari,

Once you record everything or post anything to the internet, it can’t be erase. Forever! Gimana? Sudah paham?

Orang-orang yang mengerti pentingnya sosial media dan tau cara menggunakannya, tentu akan berpikir ribuan kali untuk memposting konten apapun dari media sosial yang dimilikinya. Tujuannya apa? Tujuannya agar konten tersebut tidak sampai menjadi informasi yang salah, yang pada akhirnya merugikan orang tersebut.
Misal saja, ketika memposting sesuatu di media sosial akan hal yang tidak dia sukai atau benci, atau juga informasi yang salah atau tendesius menjatuhkan orang lain, secara tidak sengaja atau sengaja ia memposting pula siapa nama orang atau institusi yang dimaksud, orang tersebut bisa terkena pidana atas pencemaran nama baik.
Belum lagi, bisa merusak hubungan dirinya dengan orang atau institusi tersebut. Apapun yang kita posting tidak akan pernah bisa terhapus selamanya, kecuali kamu adalah orang jenius luar biasa, yang mampu menemukan solusi untuk menghapuskan konten yang pernah kamu tuliskan ke internet selamanya pula. Tapi sayangnya, sampai saat ini belum ditemukan caranya.

Let’s say, suatu saat kamu menemukan cara menghapusnya dengan menuliskan keyword  yang tepat dan menghapus semua konten di internet yang berhubungan dengan keyword tersebut. Hey, satu lagi kegilaan dari dunia internet, setiap orang bisa dengan mudah berbagi informasi yang mereka dapat dan membaginya di berbagai media sosial yang mereka punya. Kamu mungkin menghapus 2 atau 3 konten hari ini, tapi orang lain sudah terlanjur membagikan konten tersebut hingga jumlahnya tidak lagi bisa kamu hitung.

Balik lagi ke Selebgram dan Youtubers yang baru saja mendapatkan “perhatian khusus” dari netizen Indonesia.  ia secara sadar, telah menjadikan dirinya “role model” bagi ratusan ribu followers aktifnya yang umurnya masih berkisar 13-20 tahun. Bahkan, ada yang berumur dibawah itu. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan membagikan postingannya ke followers yang sudah mengikutinya. Namun, kontennya lah yang mungkin patut dipikirkan kembali.

Selebgram dan Youtubers ini adalah anak cerdas. Pemilik nilai UN tertinggi ketiga di kota asalnya. Sejak pindah ke Jakarta, ia mengalami perubahan total, baik dari tampilan maupun tingkah lakunya. Memang, untuk seumur dia, dengan memiliki tempat tinggal dan penghasilan sendiri, patut diancungi jempol. Namun sayang, identitas dirinya yang luar biasa baik ini, seakan tidak lagi terlihat sejak ia memposting bahasa-bahasa yang tidak lagi disaring ataupun perilaku yang belum pantas untuk dipertontonkan bagi followersnya.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Orang-orang yang tadinya mungkin tidak mengikuti berbagai media sosialnya, sekarang mulai  curious tentang tindak tanduknya dan mulai ikut menyaksikan pula “tontonan menarik” yang disajikan oleh selebgram sekaligus youtubers ini. Bukan karena ia adalah role model tetapi bisa sebagai bahan cemoohan dan ejekan kelak di saat mereka diskusi.

Sebagai penyaji konten kreatif, mungkin tidak hanya Selebgram dan Youtubers tersebut yang mengalami pengalaman yang sama. Masih banyak orang Indonesia yang juga melakukan hal serupa tetapi belum terekspos oleh media.
Pada sejatinya, manusia haus akan perhatian. Dengan adanya media sosial, meskipun tidak secara real life, orang-orang tersebut merasa dihargai dan diperhatikan eksistensinya. Dengan fitur komen ataupun like, maupun subscribe, setiap orang merasa dirinya “ada” dan menjadi manusia seutuhnya. Semua orang menjadi haus untuk berbagi kehidupan privasinya, yang sebelumnya mungkin tidak begitu menarik bagi orang lainnya.

Saya tidak menampik kehadiran media sosial memang menyenangkan.
Saya bertemu teman-teman lama, saya bertemu dengan jaringan baru, dan saya juga bisa melakukan hal-hal kreatif lainnya dengan fitur berbagi. Mungkin, yang menjadi pembelajaran terbesar bagi saya adalah bagaimana saya atau mungkin kita, mulai bijak menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Bukan berarti pencitraan loh ya! Tetapi lebih menyajikan konten positif yang mungkin bisa menginspirasi orang lain ketika mendengar ataupun melihat konten-konten yang kita publish.

Be creative but wise, it's a key to have a better “life” on social media..


Ciao.

Jumat, 20 Mei 2016

Y

Diposting oleh shntyaa di 09.53
Reaksi: 
0 komentar
Tired.



You always wanted to be pleased.
 

Shintia's Wonderland Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea